Meninggalnya Asmara Nababan - Satu lagi kita telah kehilangan aktivis hak asasi manusia yang sangat bersahaja yaitu Asmara Nababan tepat di hari peringatan Sumpah Pemuda 28 oktober 2010. Meninggalnya Asmara Nababan dikarenakan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya di rumah sakit Fuda, Guangzo, China Kamis (28/10) sekitar pukul 11.30 WIB.
Meninggalnya Asmara Nababan yang biasa dipanggil Bang As ini merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia, dan semua bangsa Indonesia pun berduka karena Meniggalnya Asmara Nababan tersebut. Untuk seusianya, tidak ada yang bisa menandingi jejak Asmara Nababan menunjukkan dia memang punya integritas moral dan keteguhan prinsip.
Menurut Usman Hamid yang merupakan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengatakan bahwa kondisi kesehatan Asmara Nababan terlihat menurun sejak dua minggu terakhir. "Saat berkumpul kelihatannya Asmara Nababan tidak sehat fisiknya," kenangnya.
Sampai pada 6 Oktober 2010, Usman menerima pesan singkat dari Asmara Nababan yang tengah menjalani pengobatan di Singapura. Ketika sakit pun, Asmara Nababan memperlihatkan semangat juangnya.
"Beliau sms saya begini, Saya cek kesehatan, hasilnya tidak begitu baik, perlawanan terhadap kanker ini harus lebih keras lagi," tutur Usman lirih saat membacakan pesan singkat terakhir dari Asmara Nabaan. Sebagai jawaban, Usman kala itu memberikan semangat dan berjanji mendoakan supaya lekas sembuh dari penyakitnya.
Ia mengenang sosok Asmara Nababan sebagai pejuang yang pantang menyerah. "Dia sadar perjuangan tidak mudah, tetapi dia tidak melihat kesulitan itu sebagai persoalan. Dia terus bertindak, berpikir dan berusaha. Hampir tidak kita temukan aktivis yang seusianya masih menjadi aktivis, kebanyakan sudah menjadi pengacara kondang atau pebisnis," tuturnya.
Selain itu, Usman juga mengenang Asmara Nababan sebagai sosok yang hidup bersahaja. "Selalu pakai sendal sepatu sama tas kain, itu menjadi ciri kesehariannya. Dia juga tidak pernah merasa risih rapat dan berdiskusi dengan aktivis-aktivis yang usianya jauh di bawahnya. Dia menghormati semua orang," kenang Usman.
Ketauladanan Asmara Nababan, sambung dia, seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi pemerintah dan para aparatur negara. "Para pemimpin bisa belajar dari Bang As, bagaimana merawat sendi-sendi berbangsa dan bernegara," ucapnya.
Meninggalnya Asmara Nababan yang biasa dipanggil Bang As ini merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia, dan semua bangsa Indonesia pun berduka karena Meniggalnya Asmara Nababan tersebut. Untuk seusianya, tidak ada yang bisa menandingi jejak Asmara Nababan menunjukkan dia memang punya integritas moral dan keteguhan prinsip.
Menurut Usman Hamid yang merupakan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengatakan bahwa kondisi kesehatan Asmara Nababan terlihat menurun sejak dua minggu terakhir. "Saat berkumpul kelihatannya Asmara Nababan tidak sehat fisiknya," kenangnya.
Sampai pada 6 Oktober 2010, Usman menerima pesan singkat dari Asmara Nababan yang tengah menjalani pengobatan di Singapura. Ketika sakit pun, Asmara Nababan memperlihatkan semangat juangnya.
"Beliau sms saya begini, Saya cek kesehatan, hasilnya tidak begitu baik, perlawanan terhadap kanker ini harus lebih keras lagi," tutur Usman lirih saat membacakan pesan singkat terakhir dari Asmara Nabaan. Sebagai jawaban, Usman kala itu memberikan semangat dan berjanji mendoakan supaya lekas sembuh dari penyakitnya.
Ia mengenang sosok Asmara Nababan sebagai pejuang yang pantang menyerah. "Dia sadar perjuangan tidak mudah, tetapi dia tidak melihat kesulitan itu sebagai persoalan. Dia terus bertindak, berpikir dan berusaha. Hampir tidak kita temukan aktivis yang seusianya masih menjadi aktivis, kebanyakan sudah menjadi pengacara kondang atau pebisnis," tuturnya.
Selain itu, Usman juga mengenang Asmara Nababan sebagai sosok yang hidup bersahaja. "Selalu pakai sendal sepatu sama tas kain, itu menjadi ciri kesehariannya. Dia juga tidak pernah merasa risih rapat dan berdiskusi dengan aktivis-aktivis yang usianya jauh di bawahnya. Dia menghormati semua orang," kenang Usman.
Ketauladanan Asmara Nababan, sambung dia, seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi pemerintah dan para aparatur negara. "Para pemimpin bisa belajar dari Bang As, bagaimana merawat sendi-sendi berbangsa dan bernegara," ucapnya.



0 comments:
Posting Komentar